Bocah Dikurung Hingga Meronta-Ronta, Orangtua: Kami Harus Hidup


Nasib malang harus dialami seorang bocah asal Dusun Bringin, Desa Angsana, Kecamatan Palengan, Pamekasan, Madura. Moh. Efendi (12) terpaksa makan, tidur, hingga buang air kecil maupun besar di bekas kandang ayam.

Parahnya, anak bungsu dari empat bersaudara itu tak mengenakan sehelai benang pun untuk menutupi tubuhnya. Setiap hari, Efendi hanya mendapatkan ruang gerak berukuran 1 x 0,5 meter yang terbuat dari bilah bambu.

Melansir dari Kompas.com pada Jumat (4/9/2019), bukan tanpa sebab, Effendi dikurung di dalam kandang ayam karena memiliki kelainan sifat. Ayah Effendi, Hamzah (36) mengaku terpaksa mengurung anaknya seperti itu.

Effendi sering keluar rumah dan melakukan tindakan aneh di luar batas kewajaran. Awalnya, Latifah (36) ibu kandung Efendi mengatakan jika anaknya itu saat bayi terlihat normal. Ia juga tumbuh layaknya bayi pada umumnya.

Namun, saat berusia 3 tahun, kejanggalan mulai terlihat dari diri Efendi. Saat itu Efendi tidak bisa bicara dan berjalan, padahal pada usia 3 tersebut anak harusnya sudah bisa melakukannya.

"Dia hanya merangkak kemana-mana, bicaranya tidak dimengerti karena tidak ada bahasa yang bisa diucapkan," ujar Latifa dikutip dari Kompas. Sebelum tinggal di kandang ayam, Efendi pernah ditempatkan di surau, namun ia masih bisa keluar dan mulai memakan makanan yang tidak layak seperti dedak yang ditemukannya.

"Efendi pernah makan olahan dedak untuk pakan sapi. Bahkan kulit buah siwalan, bunga, dedaunan juga dimakan. Makanya kami coba untuk dikurung," tambah Latifah. Pernah juga suatu ketika, Efendi hilang dan ditemukan pada malam di pinggiran sungai dan kuburan belakang rumah.

"Pernah sekali Efendi luput dari perhatian kami, dia justru hilang dan baru ditemukan di kuburan belakang rumah," ujar Latifah dikutip dari Tribun Madura. Tak sekali, setelahnya Efendi juga kembali hilang dan ditemukan di dekat hutan.

"Pernah juga kejadian, Efendi ditemukan di pinggir hutan di timur rumah," kata Hamzah. Orangtuanya sendiri sebenarnya tak tega, namun mereka terpaksa harus mengurung Effendi demi keselamatan anak itu sendiri.

Mereka berdua harus bekerja demi membiayai hidup dan memberi makan ketiga anaknya. "Kalau bicara perasaan, perasaan kami iba dan kasihan. Tapi bagaimana lagi, ini sudah nasib keluarga kami." "Kami harus hidup, harus bekerja. Kalau tidak bekerja, keluarga kami mau dapat dari mana biayanya," ungkap Hamzah.

Sementara itu, saat didatangi beberapa orang yang menyambanginya, Efendi tampak tertawa girang. Bahkan ia mencoba meraih baju yang diberikan orang yang mendatanginya. Ketika orang yang menyambanginya pergi, raut wajah Efendi tampak tak rela, ia juga meronta-ronta seperti minta untuk dikeluarkan dari kandang.

LihatTutupKomentar