Warga Sekampung Jadi ODP Virus Corona, Gara-gara Melayat Korban Meninggal PDP Covid-19


Rabu (23/3/20) lalu, publik telah digemparkan dengan video yang berisi warga yang membawa jenazah PDP Covid-19 ke rumah.

Naas, dalam video amatir tersebut terlihat keluarga serta pelayat membuka dan melihat jenazah seorang perempuan yang berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19 di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Pada video tersebut tampak beberapa lelaki menggotong jenazah ke dalam rumah yang terletak di pinggir jalan.

Tak sedikit para pelayat yang datang dan mengikutinya ke dalam rumah.

Bahkan, pada video lain juga terlihat bahwa jenazah yang semula terbungkus rapi dengan plastik itu sudah dibuka.

Parahnya lagi, para pelayat yaitu ibu-ibu terlihat mencumi jenazah, juga beberapak pelayat bapak-bapak tengah membersihkan wajahnya.

Akibatnya, baik keluarga maupun warga yang melayat secara otomatis langsung masuk kategori orang dalam pemantauan (ODP) dan wajib mengisolasi diri di rumah.

Melansir Kompas.com, Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Sulawesi Tenggara, dr Rabiul Awal menyayangkan sikap keluarga yang tidak mematuhi prosedur pemulasaran jenazah dengan standar korban terinfeksi Covid-19, seperti yang ditetapkan World Health Organization (WHO), meski korban masih berstatus PDP.

“Sebenarnya, dari rumah sakit sudah dibungkus plastik, tapi keluarga membuka plastik itu. Perlakuan kepada jenazah itu dengan standar Covid-19, yang memandikan pun harus memakai APD dilakukan oleh tenaga medis langsung,” ujar dr Rabiul Awal.

Kejadian tersebut terjadi di RS Bahteramas Kendari. Masyita selaku Humas RS Bahteramas Kendari, mengaku pihak Rumah Sakit (RS) telah bekerja sesuai dengan standar penanganan pasien terkait kasus Covid-19.

Namun dengan tiba-tiba pihak keluarga nekat membawa pulang jenazah menggunakan mobil pribadi.

“Kita sudah informasikan keluarganya. Tapi tetap juga keluarganya nekat (ambil jenazah). Kita sudah sesuaikan dengan aturan Covid-19. Bagaimana seharusnya diperlakukan (jenazah). Kita hanya bisa berdoa mudah-mudahan negatif,” kata Masyita, Rabu (25/3), seperti dikutip dari IDN Times.

Berdasarkan informasi yang beredar, pasien merupakan seorang wanita berusia 34 tahun.

LihatTutupKomentar